Home » » Panitia KAA Kaburkan Semangat Dasasila Bandung

Panitia KAA Kaburkan Semangat Dasasila Bandung

INILAHCOM, Jakarta – Ketua Umum Aliansi Nasionalis Indonesia (Anindo), Edwin Henawan Soekowati mensinyalir Panitia Pusat Peringatan 60 tahun Konferensi Asia-Afrika (KAA) cenderung mengaburkan sejarah dari semangat Dasasila Bandung.

“Hal ini dapat dilihat karena ada dua hal yang terjadi, yaitu panitia secara terorganisir, terstruktur dan massif memasang foto, poster dan baliho Nelson Mandela. Padahal Nelson Mandela bukan peserta KAA tahun 1955 di Bandung,” kata Edwin kepada wartawan di Jakarta, Senin (20/4).

Kemudian, lanjut mantan anggota DPR/MPR RI dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia (F-PDI) periode 1987–1992 ini, tema yang diangkat dalam peringatan 60 Tahun KAA adalah, “Selatan-Selatan”.

“Padahal sebagaimana kita ketahui spirit  Dasasila Bandung adalah penggalangan dan solidaritas negara-negara Asia-Afrika dalam upaya melawan neo-kolonialisme-neo imperialisme. Bukan semangat kompromistis untuk menarik minat negara donor,” ujar pria yang pernah menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) tahun 1999 ini.

Dengan demikian, dapat dipastikan peringatan dan penyelenggaraan KTT Asia-Afrika kali ini tidak lagi berlandaskan sejarah, visi-misi Dasasila Bandung. Melainkan memilih caranyanya sendiri, yakni Semangat Baru Asia-Afrika dengan mengusung tema “Selatan-Selatan” yang merupakan isupolitik dari kelompok tertentu sebagaimana dilontarkan Yulius Nyerere dari Tanzania beberapa waktu lampau.

Isu ini jelas bertentangan dengan semangat Trisakti dan Nawacita yang dicanangkan Pemerintah Jokowi-JK yang berlandaskan kepada Trisakti Bung Karno.

Bersamaan dengan itu diluncurkan ketokohan Nelson Mandela pejuanga aparhateid sebagai wakil dari Afrika yang disejajarkan dengan Bung Karno sebagai wakil dariAsia pada tema peringatan 60 tahun KAA adalah tidak tepat karena Nelson Mandela bukan peserta KAA tahun 1955, seharusnya foto dari para Perdana Menteri pemrakarsa, yaitu PM dari Myanmar (dulu Burma), Srilangka (dulu Ceylon), India dan Pakistan yang dipasang mendampingi  Bung Karno sebagai Presiden Indonesia.

“Tapi nyatanya foto dari para Perdana Menteri pemrakarsa KAA 1955 tersebut sebagai pejuang sejati dan sahabat Bung Karno malahan tidak terlihat di ruang publik,” ujarnya

Berbanding lurus dengan hal itu, tambah Edwin, justru Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia tengah menyiapkan dokumen politik yang mereka namakan Bandung Mission (Misi Bandung) sebagai pengganti Dasasila Bandung yang bahan-bahannya telah disiapkan oleh Universitas Gajah Mada (UGM) melalui Seminar Bandung Conference and beyond 2015 yang tertutup untuk wartawan.

Jadi, pinta Edwin, Presiden Jokowi harus menegaskan bahwa program tersebut tidak boleh bertentangan atau tidak sejalan dengan semangat Dasasila Bandung

“Dengan fakta-fakta tersebut, kami sekali lagi mensinyalir panitia peringatan KAA dan Kementerian LuarNegeri RepublikIndonesia  telah mengaburkan sejarah dans emangat Dasasila Bandung. Hal ini harusdiketahui public,” katanya.

Fenomena ini bukan saja menunjukkan ada penumpang gelap dalam pemerintahan Jokow- JK, tetapi juga ada penunggang gelap dalam perjalanan sejarah diplomasi KAA melalui peringatan 60 tahun KAA tahun 2015.

“Karena itu Presiden Jokowi dan Wapres JK harus waspada dan berhati-hatiterhadap oknum-oknum tertentu di pemerintahan yang memanfaatkan dengan membuat program pemerintah yang bertentangan denagn visi misi Trisakti,” pungkasnya. [rok]

Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Lugas Media - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger